Sabtu, 18 Juli 2026

Mempermudah Edukasi K3 dengan AI

 

Yamaha Music mempunyai 12 commandments (bukan 10 commandments) terkait dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

The text is a list of safety guidelines for operating a Yamaha lawnmower, including proper use, maintenance, and handling to ensure personal safety.

AI-generated content may be incorrect.

 

Nah agar 12 aturan keselamatan kerja diatas bisa menjadi budaya, saya berpikir bagaimana agar semua orang di Yamaha bisa mengingatnya, saya coba membuat materi pembelajaran dengan menggunakan metode cantol dan jalin. Harapannya dengan mengingat, akan menjadi suatu ingatan dibawah sadar yang akan menjadi perilaku sehari-hari.

Metode menghafal sepertinya cukup membantu untuk dapat mempermudah dalam mengingat.Materi untuk menghafal tersebut bisa diakses pada link di bawah ini.

・ Metode Menghafal 12 Aturan Keselamatan Kerja Yamaha (Bahan Presentasi, Power Point)

・ Metode Menghafal 12 Aturan Keselamatan Kerja Yamaha (Bahan Presentasi, Video)

 Setelah beberapa lama menggunakan materi tersebut, sepertinya masih ada yang belum tertarik untuk mengingatnya, untuk itu saya mencoba dengan cara lain.Cara lainnya adalah dengan meminta bantuan AI untuk membuatkan game yang mungkin “menarik” dan bisa menjadi daya tarik untuk proses pembelajaran.

Saya minta bantuan Claude dengan mengupload materi diatas, setelah itu memberikan instruksi ke Claude untuk bantu membuatkan game untuk menghafalnya.

Hasilnya bisa diakses di salah satu link dibawah ini :

1.       Game menghafal 12 aturan keselamatan kerja Yamaha (Claude)

2.       Game menghafal 12 aturan keselamatan kerja Yamaha (Netlify)

Hasilnya cukup menarik. Semoga lebih menggugah untuk belajar menghafalnya. 

Semoga tulisan ini menginspirasi.

Apakah pekerjaan HRGA bisa digantikan oleh AI ?

 

Tanggal 15 Juli 2026, YMMI mendapat kunjungan dari PQM Consultant, dimana dalam diskusi tersebut terbersit diskusi terkait pekerjaan bidang jasa yang perlu memperhatikan 3 R. Karena kurang paham apa yang dimaksud saya bertanya kepada tamu tersebut. Beliau menjelas 3 R itu adalah Reliabilitas, Responsivitas dan Relasi.

 

Lebih lanjut saya coba bertanya kepada Gemini untuk mendapat penjelasan lebih lanjut.

Penjelasannya adalah sbb.

 

Dalam konteks industri service jasa, 3R yang Anda maksud merujuk pada tiga pilar utama kualitas pelayanan pelanggan, yaitu Reliability (Reliabilitas), Responsiveness (Responsivitas), dan Relationship (Relasi/Hubungan).

Tiga aspek ini saling berkaitan untuk menciptakan kepuasan dan loyalitas pelanggan yang tinggi.

1. Reliability (Reliabilitas / Keandalan)

Kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan yang akurat, tepat waktu, dan konsisten sesuai dengan apa yang telah dijanjikan kepada pelanggan

  • Contoh: Montir memperbaiki motor dan hasilnya langsung prima tanpa ada masalah susulan, atau teknisi AC datang tepat waktu sesuai jam operasional yang dijanjikan.
  • Inti dari aspek ini: Menghindari kesalahan kerja dan membangun rasa percaya (trust) pelanggan.

2. Responsiveness (Responsivitas / Daya Tanggap)

Kecepatan, kesigapan, dan kemauan karyawan untuk membantu pelanggan serta memberikan layanan dengan tanggap.

  • Contoh: Customer service langsung membalas chat keluhan dalam waktu kurang dari 5 menit, atau petugas langsung sigap membantu saat pelanggan terlihat kebingungan.
  • Inti dari aspek ini: Menghargai waktu pelanggan dan menunjukkan rasa peduli yang tinggi.

3. Relationship (Relasi / Hubungan)

Kemampuan untuk membangun interaksi positif dan ikatan emosional jangka panjang dengan pelanggan.

  • Contoh: Mengingat nama pelanggan tetap, memberikan ucapan atau promo khusus di hari ulang tahun mereka, serta bersikap ramah dan empati selama proses pelayanan.
  • Inti dari aspek ini: Mengubah pelanggan baru menjadi pelanggan setia (loyal customer) yang akan merekomendasikan jasa Anda ke orang lain.

Diskusi berlanjut, apakah pekerjaan jasa tersebut bisa tergantikan dengan AI ? pendapat dari tamu kita untuk poin R ke-1 dan ke-2 (Reliabilitas dan Responsivitas) kemungkinan bisa digantikan oleh AI, tetapi untuk R ke-3 (Relasi) tidak bisa, karena menyangkut “rasa”

Terkait pernyataan itu saya juga menantang lagi AI (kali ini dengan Claude), untuk menganalisa pendapat tersebut. Berikut ini pendapatnya.

Pendapat itu menurut saya sebagian besar benar, tapi perlu sedikit dipertajam agar tidak menjadi klaim yang terlalu nyaman bagi praktisi HR.

Mari kita lihat satu per satu. Pada reliabilitas, AI justru unggul. Konsistensi dalam administrasi payroll, kepatuhan regulasi, dokumentasi, analisis data karyawan — mesin tidak lelah, tidak lupa, dan tidak terpengaruh suasana hati. Pada responsivitas, AI juga sangat kompetitif: chatbot HR bisa menjawab pertanyaan tentang cuti, BPJS, atau kebijakan perusahaan dalam hitungan detik, 24 jam. Jadi dua R pertama memang wilayah di mana AI bukan hanya bisa menggantikan, tapi sering kali lebih baik dari manusia.

Pada relasi, argumennya lebih kuat, tapi dengan catatan. Yang tidak bisa digantikan AI bukanlah "interaksi" — AI bisa berinteraksi dengan sangat lancar, bahkan terasa empatik. Yang tidak bisa digantikan adalah tiga hal yang lebih dalam:

Pertama, kepercayaan yang lahir dari risiko bersama. Ketika seorang HRGA Director duduk berhadapan dengan serikat pekerja dalam negosiasi yang alot, kedua pihak tahu bahwa orang di depannya punya reputasi, karier, dan integritas yang dipertaruhkan. AI tidak mempertaruhkan apa-apa. Relasi yang bermakna dibangun di atas akuntabilitas personal, dan itu tidak bisa disimulasikan.

Kedua, kehadiran dalam momen kritis. Saat menyampaikan PHK, menangani duka karyawan, atau menengahi konflik antar pimpinan — yang dibutuhkan bukan jawaban yang tepat, melainkan manusia yang hadir dan ikut menanggung beratnya situasi. Ini sejalan dengan yang Anda tulis dalam kerangka MKS: dimensi moral dalam kepemimpinan tidak bisa didelegasikan ke sistem, karena moral menuntut subjek yang bertanggung jawab.

Ketiga, relasi sebagai jaringan politik dan kultural organisasi. Memahami siapa yang sebenarnya berpengaruh di lantai produksi, membaca dinamika yang tidak tertulis, membangun modal sosial selama bertahun-tahun — ini pengetahuan tacit yang melekat pada orang, bukan pada data.

Namun catatan kritisnya: relasi tidak otomatis menjadi benteng aman. HR/GA yang selama ini menjalankan "relasi" secara dangkal — sekadar ramah di permukaan, hadir di acara seremonial — justru akan tergantikan, karena relasi semacam itu bisa ditiru AI dengan mudah. Yang bertahan adalah relasi yang berbasis integritas, keberanian moral, dan kedalaman pemahaman manusia.

Jadi kesimpulan saya: pendapat itu benar arahnya, tapi implikasinya justru menuntut HR/GA naik kelas. AI akan mengambil alih reliabilitas dan responsivitas, dan itu seharusnya disyukuri — karena membebaskan HR untuk mengerjakan satu-satunya hal yang benar-benar tidak tergantikan: menjadi manusia yang dipercaya oleh manusia lain. Pertanyaannya bagi setiap praktisi HR bukan "apakah relasi bisa digantikan AI?", melainkan "apakah relasi yang saya bangun selama ini cukup dalam sehingga layak tidak tergantikan?"

 

AI membenarkan 2 pernyataan terkait 2R pertama, sedikit membenarkan pernyataan R yang terakhir, dengan catatan HR/GA perlu “naik kelas” dalam membangun relasi dengan pelanggan (dalam hal ini karyawan).

Suatu hal yang baik untuk dipikirkan oleh kita yang bekerja memberikan service bagi karyawan.

 

Dari berita-berita di atas Internet, kita juga mengetahui banyak Perusahaan papan atas seperti, Ford Motor Company, Commonwealth Bank, Mc Donald, mereka banyak memberhentikan karyawan karena ingin mengantikan dengan AI, tetapi karena tidak sesuai dengan harapan akhirnya banyak merekrut Kembali karyawannya yang sudah di PHK.

 

Walau euphoria perdebatan terkait AI akan dapat menggantikan pekerjaan dengan manusia atau tidak masih tetap ada dan saya meyakini akan tetap terus berlanjut, tetapi dengan perkembangan teknologi apa yang dilakukan oleh manusia perlu beradaptasi.

Ada quote yang saya sukai juga, seperti ini :

"If you don't change your environment, your environment will change you."

Vusi Thembekwayo

"Change before you have to."Jack Welch (Mantan CEO General Electric)

"If you do not change direction, you may end up where you are heading."

Lao Tzu

"Perubahan datang dari lingkungan yang memaksa kita berubah, dan kita yang memaksa diri kita untuk berubah."             - Pandji Pragiwaksono (Komedian)

 

Dunia berubah, lingkungan berubah, kita sebagai orang yang bekerja juga perlu berubah menyesuaikan perubahan lingkungan yang sedang dan akan terus terjadi.